Rabu, 28 November 2012

Nama-nama Nabi Muhammad Saw.


Nama-nama Nabi Muhammad Saw.



Dalam kitab al-Hawaadits wa al-Ahwaal an-Nabawiyyah, buah karya Prof. DR. Al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad bin ‘Alawi bin ‘Abbas al-Maliki al-Hasani halaman 20-21 disebutkan bahwa:
Nabi Muhammad Saw. pernah bersabda berkenaan dengan nama-nama beliau: “Aku adalah Muhammad, aku adalah Ahmad dan al-Mahi (penghapus) yang dengannya Allah menghapus kekufuran. Aku adalah al-Hasyir (pengumpul) yang dengan jejakku Allah mengumpulkan umat manusia. Aku adalah al-‘Aqib (Pamungkas) karena tak ada nabi lagi sesudahku”.
Dalam sebuah riwayat disebutkan: “Aku adalah al-Muqaaffa (yang ditakuti), aku adalah Nabi at-Taubah dan Nabi ar-Rahmah”. Dalam shahih Muslim: “Nabi al-Mulhimah”.
Al-Quran al-Karim menyebut beliau dengan beberapa sebutan: Basyir (pembawa kabar gembira), Nadzir (pemberi peringatan), Siraj al-Munir (Pelita Penerang), Ra’uf(Penyantun), Rahim (penyayang), Rahmatan lil-‘alamin (Rahmat bagi alam semesta), Muhammad, Ahmad, Thaha, Yasin, Muzzammil (Orang yang berselimut), dan ‘Abdullah (hamba Allah): yaitu sebagaimana firman Allah dalam Surah al-Jinn ayat 19: “...Dan bahwasanya ketika Abdullah —yakni Muhammad Saw.—-berdiri berdoa Kepada-Nya...”
Dalam ayat tersebut Allah menyebut beliau dengan sebutan ‘Abdullah (Hamba Allah).
Nama beliau yang lain lagi adalah an-Nadzir al-Mubin (orang yang memberi peringatan dengan jelas dan terang), yaitu sebagaimana firman Allah dalam Surah al-Hijr ayat 89: “Dan katakanlah (Hai Nabi), “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan Yang jelas.
Sedangkan nama beliau “Mudzakkir” adalah seperti diungkap dalam al-Quran (QS. 88;21): “Sesungguhnya engkau adalah pemberi peringatan (Mudzakkir).”
Disamping nama di atas, juga disebutkan beberapa nama dan sifat Nabi Muhammad Saw. yang lain.


201 Nama-nama Nabi Muhammad Saw. dalam Kitab Dalailul Khairat


أسمآء النبي صلى الله عليه وسلم

محمد
أحمد
حامد
محمود
أحيد
وحيد
ماح
حاشر
عاقب
طه
يس
طاهر
مطهر
طيب
ناصر
سيد
رسول
نبي
رسول الرحمة
قيم
جامع
مقتف
مقفى
رسول الملاحم
رسول الراحة
كامل
إكليل
مدثر
مزمل
عبد الله
حبيب الله
صفى الله
نجى الله
كليم الله
خاتم الأنبياء
خاتم الرسل
محي
منجى
مذكر
ناصر
منصور
نبي الرحمة
نبي التوبة
حريص عليكم
معلوم
شهير
شاهد
شهيد
مشهود
بشير
مبشر
نذير
منذر
نور
سراج
مصباح
هدى
مهدى
منير
داع
مدعو
مجيب
مجاب
حفي
عفو
ولي
حق
قوى
أمين
مأمون
كريم
مكرم
مكين
متين
مبين
مؤمل
وصول
ذو قوة
ذو حرمة
ذو مكانة
ذو عز
ذو فضل
مطاع
مطيع
قدم
صدق
رحمة
بشرى
غوث
غيث
غياث
نعمة الله
هدية الله
عروة وثقي
صراط الله
صراط مستقيم
ذكر الله
سيف الله
حزب الله
النجم الثاقب
مصطفى
مجتبى
منتقى
أمي
مختار
أجير
جبار
أبو القاسم
أبو الطاهر
أبو الطيب
أبو إبراهيم
مشفع
شفيع
صالح
مصلح
مهيمن
صادق
مصدق
صدق
سيد المرسلين
إمام المتقين
قأئد الغر المحجلين
خليل الرحمن
بر
مبر
وجيه
نصيح
ناصح
وكيل
متوكل
كفيل
شفيق
مقيم السنة
مقدس
روح الحق
روح القسط
كاف
مكتف
بالغ
مبلغ
شاف
واصل
موصول
سابق
سآئق
هاد
مهد
مقدم
عزيز
فاضل
مفضل
فاتح
مفتاح الرحمة
مفتاح الجنة
علم الإيمان
علم اليقين
دليل الخيرات
مصحح الحسنات
مقبل العثرات
صفوح عن الزلات
صاحب الشفاعة
صاحب المقام
صاحب القدم
مخصوص بالعز
مخصوص بالمجد
مخصوص بالشرف
صاحب الوسيلة
صاحب السيف
صاحب الفضيلة
صاحب الإزار
صاحب الحجة
صاحب السلطان
صاحب الردآء
صاحب الدرجة الرفيعة
صاحب التاج
صاحب المغفر
صاحب اللوآء
صاحب المعراج
راكب البراق
صاحب الخاتم
صاحب العلامة
صاحب البرهان
صاحب البيان
فصيح اللسان
مطهر الجنان
رءوف رحيم
أذن خير
صحيح الإسلام
سيد الكونين
عين النعيم
عين الغر
سعد الله
سعد الخلق
خطيب الأمم
علم الهدى
كاشف الكرب
رافع الرتب
عز العرب
صاحب الفرج

المراجع
من كتاب دلآئل الخيرات

Senin, 26 November 2012

LYRIC “ALLAH IGHFIR LIMAN” VERSI INDONESIA


LYRIC “ALLAH IGHFIR LIMAN” VERSI INDONESIA
Oleh: Sayyidil Walid Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf



Dengar nasihat ini agar tidak terjadi
Pada diri sendiri cerita orang mati

Mati su'ul khotimah jauh darilah rohmah
Jauh ampunan dosa dunia sampai akhirat

Ruh dicabut dipaksa dengan sakit & marah
Dibawa malaikat disumpah dan dilaknat

Baunya tak kepalang lebih dari binatang
Nasibnya sangat malang celaka sudah terang

Nangis mohon kembali ke dunia untuk bakti
Junjung perintah Robbi agama islam suci

Tetapi sungguh sayang ruhnya sudah melayang
Malaikat yang pegang tak diizinkan pulang

Matinya sangat sesal haus lapar tak bekal
Berlayar tak berkapal dalam siksa yang kekal

Badan hangus terbakar dalam api berkobar
Sakit digigit ular kalajengking mencakar

Siang malam menjerit keras setinggi langit
Ular kelabang menggigit sangat panas dan sakit

Haus mintalah minum lapar diberi zaqum
Nanah pelacur mesum minuman khafir dzolum

Susah hati & bingung api tetap menggulung
Pukulan tak terhitung menjerit minta tulung

Malaikat berkata diam jangan berkata
Agama sudah nyata tapi kau tuli buta

Aku tidak bersalah hanya Allah perintah
Tapi engkau yang salah pada Allah membantah

Cukup bersenang-senang di dunia malam siang
Berlezat tak kepalang tidak dapat dilarang



Keterangan: Syair ini adalah karya Sayyidil Walid al-Habib Abdurahman bin Ahmad bin Abdul Qadir Assegaf Bukit Duri. Beliau mengijazahkan kepada al-Habib Hasan bin Ja'far bin Umar Assegaf, dan sering dibawakannya jika ada Tabligh Akbar Nurul Musthofa sebagai renungan untuk jamaahnya.

LYRIC “ALFA SHOLALLAH” VERSI INDONESIA


LYRIC “ALFA SHOLALLAH” VERSI INDONESIA
Oleh: Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf



Ini lah sya'ir yang penuh pesan
Ingat dengarkan dan jangan lupa
Bukalah mata
Bukalah telinga
Agar terpancar cahaya mulia


Bedakanlah dosa dan pahala
Seperti minyak air tak sama
Hati yang hitam karena durhaka
Hati yang terang karena cahaya


Hati yang hitam tandanya tiga
Satu melawan ibu dan bapak
Tua melawan pada para ulama
Yang ketiga meninggalkan sholat


Sungguh merugi tiada tara
Mata melirik bagaikan buta
Tidak sembahyang tidaklah puasa
Di dalam kubur mendapat siksa


Orang yang baik dikata dusta
Hatinya selalu banyaklah sangka
Karena selalu dia berbuat dosa
Hitam dan putih dibilang sama


Tiada ilmu hatinya buta
Duduk di majelis tapi berdosa
Hati yang bimbang kerasukan setan
Tiada uang iman mengambang




Dunia ini sedang berhias
Siapa lalai, iman terampas
Janganlah jauh dari bertaubat
Hari kiamat semakin dekat



Pesan ini pesan yang singkat
Pesan hati untuk umat
Obatnya hati baca sholawat
Obatnya mati banyak bertaubat




Keterangan: Syair ini adalah karya Sayyidil Walid al-Habib Abdurahman bin Ahmad bin Abdul Qadir Assegaf Bukit Duri. Beliau mengijazahkan kepada al-Habib Hasan bin Ja'far bin Umar Assegaf, dan sering dibawakannya jika ada Tabligh Akbar Nurul Musthofa sebagai renungan untuk jamaahnya.

Kamis, 22 November 2012

ILMU AQO’ID; Pengertian Islam dan Iman Oleh: KH. Abdul Wahhab Chasbullah


ILMU AQO’ID
Pengertian Islam dan Iman
Oleh: KH. Abdul Wahhab Chasbullah


Islam adalah menjalankan syari’at  junjungan kita Nabi Agung Muhammad Saw. dengan anggota dzahir (anggota badan) kita, dengan cara mengikuti apa yang dijalankannya dan mentaati apa yang diperintahkannya.
Sedangkan Iman adalah kepercayaan hati kita pada apa yang telah difirmankan Allah Swt. kepada Nabi Agung Muhammad Saw. (kalamullah) dan yang disabdakan oleh Nabi Agung Muhammad Saw. sendiri (hadits).
Barangsiapa yang telah bersifat islam, maka ia dinamakan muslim, dan barangsiapa yang bersifat iman, maka ia dinamai orang mu’min. Dan sesungguhnya islam dan iman itu tidak dapat dipisahkan.
Dengan demikian, apabila seorang islam tetapi tidak iman, maka ia tidak akan mendapat faedah di akhirat kelak, walapun dzahirnya islam. Inilah yang disebut dengan kafir zindiq dan akan berada di dalam siksa neraka selama-lamanya.
Begitu juga sebaliknya, jika seorang beriman tetapi tidak islam, maka ia tidak selamat dari siksa neraka yang amat hebat. Mereka itu bukanlah mu’min muslim asli tetapi mu’min muslim taba’i, yang beriman dan berislam karena mengikuti kedua orang tuanya atau nenek moyangnya.
Di sini kita bisa mengatakan bahwa sebagian bangsa Indonesia adalah orang islam dan mu’min entah asli atau taba’i. Oleh karenanya jika mereka mati, mayitnya harus diurus secara islam. Kecuali orang yang telah murtad, yaitu orang yang pernah berbuat atau mengucapkan perkataan kufur seperti mengatakan tidak adanya Tuhan Allah Ta’ala atau mengatakan bahwa Tuhan Allah itu Satu tetapi pecah menjadi tiga, atau tiga tapi jadi satu, atau mengatakan bahwa Allah itu pernah menjelma atau bahwa Allah itu bertempat duduk di jantung hati, atau mengatakan bahwa sembahyang itu tidak ada gunanya, dan lain sebagainya.
Apabila seseorang telah muratd, maka tidak sekali-kali dianggap sebagai orang islam ataupun mu’min, dan jikalau ia mati, padahal belum pernah terlihat taubatnya, maka mayitnya tidak boleh diurus secara Islam.

Demikian diterangkan oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah dalam Majalah Oetusan Nahdlatul Oelama. Penulisan ulangan tulisan beliau ini tentunya disertai perubahan ejaan dan gaya bahasa yang berlaku sekarang (EYD) untuk mempermudah pemahaman.

Sumber: Oetusan Nahdlatul Oelama, No1. Tahun ke-1

Sya’roni As-Samfuriy, Indramayu 09 Muharram 1434 H

Senin, 19 November 2012

Shalawat Thibbil Qulub


Shalawat Thibbil Qulub (Shalawat Syaikh Ahmad ad-Dardir)

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا . وَعَافِيَةِ اْلأَبْدَانِ وَشِفَائِهَا . وَنُوْرِ اْلأَبْصَارِ وَضِيَائِهَا . وَقُوْتِ اْلأَرْوَاحِ وَغِذَائِهَا . وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ .
Allahuma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin thibbil quluubi wadawaa-iha wa‘aafiyatil abdaani wasyifaa-ihaa wanuuril ab-shaari wadhiyaa-ihaa waquutil ajsaadi wal arwaahi wa ghidaa-ihaa wa’alaa aalihii washohbihii wasaliim. 
Artinya: ”Ya Allah, limpahkanlah rahmat yang disertai ta’dzim kepada Nabi Muhammad sebagai penyembuh semua hati dan menjadi obatnya, keafiatan badan dan kesembuhannya, cahaya segala penglihatan dan menjadi sinarnya, menjadi makanan jiwa santapannya. Dan semoga terlimpahkan pula shalawat dan salam kepada keluarga  dan sahabat beliau.”

Dalam kitab Saadah ad-Darain fi Shalat ‘alaa Sayyid al-Kaunain, Syaikh Yusuf Ibn Ismail an-Nabhani menisbatkan shalawat ini kepada Syaikh Abu al-Barakat Ahmad ad-Dardir. (Lihat Syaikh Yusuf Ibn Ismail an-Nabhaniy dalam kitab Saadah ad-Darain fi Shalat ‘ala Sayyid al-Kaunain halaman 13).
Ada sedikit perbedaan redaksi dari shalawat Thibb al-Qulub atau yang disebut juga shalawat ath-Thibbiyyah ini, dalam redaksi Syaikh Ahmad ash-Shawiy tidak ada tambahan (وَقُوْتِ اْلأَرْوَاحِ وَغِذَائِهَا). Tambahan tersebut disebutkan oleh Syaikh Yusuf Ibn Ismail an-Nabhaniy dalam kitab Saadah ad-Darain fi Shalat ‘alsa Sayyid al-Kaunain. Kemudian Sayyid Muhammad Ibn Alawiy al-Maliky mengukuhkan kembali dalam kitab Abwab al-Faraj dan Syawariq al-Anwar min Ad’iyah as-Sadah al-Akhyar.
Habib Abu Bakar ibn Abdullah Ibn Alawiy al-Atthas pengarang kitab Risalah al-Kautsar, menamakan shalawat Thibb al-Qulub dengan sebutan shalawat Nur al-Abshar.


Keutamaan Shalawat Thibb al-Qulub

Syaikh Ahmad Ibn Muhammad ash-Shawiy al-Malikiy berkata: “Apabila shalawat Thibb al-Qulub dibaca sebanyak 400 kali atau 2000 kali, diniatkan buat orang sakit, maka dengan izin Allah, penyakit apapun akan sembuh.” (Lihat Syaikh Ahmad Ibn Muhammad ash-Shawiy dalam kitab al-Asrar ar-Rabbaniyyah wa al-Fuyudh ar-Rahmaniyyah ‘ala Shalawat ad-Dardiriyyah halaman 46).
Dihikayatkan ada orang mendatangi Habib Ahmad Ibn Hasan al-Atthas di kota Huraidhah, ia mengadukan perihal matanya yang telah mengalami gangguan penglihatannya. Kemudian Habib Ahmad mengusap kedua mata orang tersebut dan beliau memerintahkan agar ia memperbanyak membaca shalawat Thibb al-Qulub. Habib Ahmad lalu berkata: “Habib Muhammad ibn Zain Ba’abud telah mengabarkan diriku bahwa ia berkata; “Mataku pernah mengalami ganguan penglihatan sehingga aku minta solusi kepada Habib Shalih ibn Abdullah al-Atthas kemudian beliau mengusap kedua mataku dan beliau memerintahkan agar aku membaca shalawat Thibb al-Qulub setiap hari sebanyak 300 kali, maka aku amalkan shalawat itu sehingga aku diberikan kesembuhan yang segera.” (Lihat al-Habib Abu Bakar  ibn Abdullah al-Atthas dalam kitab Mafatih as-Sa’adat fii ash-Shalawaat ‘ala Sayyid as-Sadat h. 23.)


Dikutip dari buku:
فَاتِحُ اْلأَسْرَارِ وَمُفَرِّجُ الْهُمُوْمِ وَاْلأَغْيَار
فِي فَضَائِل ِاَحَدَ عَشَرَ صَلَوَاتٍ عَلَى النَّبِيّ الْمُخْتَار
Pembuka Segala Rahasia Penghempas Lara Dan kesulitan
Dalam Menguak Keutamaan 11 Shalawat Para Auliya kepada Nabi Muhammad
Penyusun: H. Rizki Zulkarnain Asmat Majelis al-Mua’fah Jl. Tipar Cakung Rt.05/08 No:5 Kelurahan Cakung Barat Jakarta Timur 13910


Sabtu, 03 November 2012

PENGERTIAN ILMU AQO’ID



PENGERTIAN ILMU AQO’ID
Oleh: KH. Abdul Wahhab Chasbullah


Tulisan KH. Abdul Wahab Chasbullah ini adalah mengenai ilmu Aqo’id yang pernah dimuat secara bersambung pada majalah ‘Oetusan Nahdlatul Oelama’ pada awal tahun 1928. Hal ini dipandang perlu mengingat ilmu Aqoi’d sebagai salah satu asas dalam memahami Islam secara sempurna -kaffah-, kini mulai jarang disentuh. Bahkan hampir mengalami ‘kepunahan’. Buktinya, jarang sekali kita mendengar istilah Aqoi’d, apalagi ilmu Aqoi’d. Telinga dan mata kita lebih familier dengan istilah Aqidah Islam, Aqidah Ahlussunnah atau malahan kalimat pertentangan aqidah. Semuanya kita fahami begitu saja tanpa pikir panjang.
Selanjutnya diterangkan bahwa ilmu aqoid sebagaimana diterangkan dalam kitab al-Bajuri dan Jam’ al-Jawaami’ sebagai berikut:

العلم بالعقائد الدينية الاعتقادية اليقينية المكتسب من ادلتها الشرعية

“Pengetahuan yang terikat dalam masalah keyakinan keagamaan yang diambil dari dalil-dalil syara’.

Adapun guna mempelajari ilmu Aqoi’d adalah untuk membetulkan dan meneguhkan iman manusia kepada Tuhannya Allah Jalla wa ‘Alaa. Iman yang benar akan mengesahkan segala amal ibadah seperti shalat, puasa, zakat, haji dan lain-lannya. Dan surga menjadi pahala balasan di akhirat nanti. Namun, jika iman seseorang tidak dalam posisi yang benar, maka semua amal itu akan sia-sia. Dan di akhirat nanti neraka sebagai ganjarannya.
Melihat posisi dan guna ilmu Aqoi’d yang begitu pentingnya, maka belajar ilmu Aqoi’d hukumnya fardhu ain. Artinya wajib bagi setiap orang yang berakal untuk mempelajarinya.
Ilmu Aqoi’d dinamakan demikian karena pengetahuan ini berisikan satu bundelan (ikatan) mengenai sahnya iman dan islam yang jumlahnya 50, yang terkenal dengan istilah Aqoi’d Seket (50). Dengan perincian; 20 sifat wajib bagi Allah, 20 sifat mustahil bagi Allah, 1 sifat jaiz bagi Allah, 4 sifat wajib bagi para Rasul, 4 mustahil bagi para Rasul dan 1 sifat jaiz bagi para Rasul. Semuanya itu terkandung di dalam kalimah Laa Ilaaha Illallaah.
Ilmu Aqoi’d juga disebut ilmu ushuluddin, yaitu ilmu mengenai pokoknya agama. Karena itu bagi siapapun orangnya beribadah siang malam, tetapi tidak memiliki pengetahuan ilmu ini, maka ibadah itu dianggap tidak sah.
Selain itu, ilmu ini juga disebut dengan ilmu kalam (ilmu bicara), karena siapapun tidak akan dapat memahami ilmu Aqoi’d ini secara benar, apabila belum dibicarakan dengan panjang lebar dan penuh perhatian. Bahkan perlu digaris bawahi bahwa memahami ilmu Aqoi’d ini tidak cukup dengan membaca buku saja tetapi harus melalui seorang guru (digurukan).
Demikian diterangkan oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah dalam Majalah Oetusan Nahdlatul Oelama. Adapun mengenai medan pembahasan ilmu Aqoi’d akan diterangkan menyusul. Penulisan ulangan tulisan beliau ini tentunya disertai perubahan ejaan dan gaya bahasa yang berlaku sekarang (EYD) untuk mempermudah pemahaman.

Sumber: Oetusan Nahdlatul Oelama, No1. Tahun ke-1

Sya’roni As-Samfuriy, Indramayu 18 Dzul Hijjah 1433 H

Sabtu, 13 Oktober 2012

SISI LAIN SITI FATIMAH RA.


SISI LAIN SITI FATIMAH RA.


Al-Imam Ibnu Qasim al-Ghozi mengatakan dalam kitabnya yang berjudul Syarh al-Ghayah bahwa Siti Fathimah adalah wanita yang tidak pernah mengalami haidh dan nifas (selalu dalam keadaan suci). Oleh karena itu Siti Fathimah digelari dengan az-Zahra’. Namun ada yang berpendapat bahwa Siti fathimah diberi gelar az-Zahra’  karena ketika beliau melahirkan di waktu ghurub dan mengalami nifas hanya sesaat (waktu yang sangat singkat atau hanya satu tetesan), kemudian langsung suci kembali seakan-akan tak pernah mengalami nifas sama sekali. Inilah diantara sebab mengapa dalam madzhab Imam asy-Syafi’i menyatakan bahwa “Aqallu an-Nifaas Majjatan”, paling sedikit-sedikitnya nifas adalah satu tetesan.
Asy-Syekh Muhammad Shaban dalam kitabnya yang berjudul Is’aaf ar-Raaghibiin mengatakan bahwa Siti Fathimah dinikahkan dengan Sayyidina Ali Kw., seorang pemuda yang berumur 21 tahun 5 bulan, setelah usainya perang Badar . Sedangkan Siti fathimah saat itu berumur 15 tahun 5 bulan. Siti Fathimah dilahirkan sebelum Rasulullah Saw. diangkat menjadi Nabi sekitar setahun sebelumnya, dan ada yang berpendapat selainnya. Siti Fathimah wafat setelah wafatnya sang ayah Rasulullah Saw. dengan jarak 6 bulan, menurut pendapat yang shahih, pada malam Selasa tanggal 3 Ramadhan tahun 11 Hijriyah. Dan jenazahnya dimakamkan pada malam hari.
Lihat juga keterangan di atas dalam kitab Kasyifat as-Saja pada halaman 46-47 karya asy-Syekh Nawawi bin Umar al-Bantani al-jawi atas syarhnya terhadap kitab matan Safinat an-Najat. Wallahu a’lam.